Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ternyata ini Penyebab Harga Cabai Melambung Tinggi

Beberapa minggu belakangan ini, harga cabai rawit merah meroket drastis. Kenaikan harga cabai rawit merah, tidak hanya terjadi di Jakarta saja, tapi sejumlah daerah lainnya.

Pemicu dari kenaikan harga disebabkan karena cuaca ekstrem sehingga berkurangnya pasakan cabai dari petani ke pedagang.



Hal ini juga diamini oleh sejumlah pedagang di pasar tradisional Jakarta Selatan. Hadi, seorang pedagang bumbu mengatakan bahwa stok yang minim di Pasar Kramat Jati lantaran produksi dan panen dari petani yang berkurang.

Harga naik karena stok di Kramat Jati juga berkurang, itu karena produksi dan panen dari petani yang juga berkurang akibat cuaca dan lahan mereka gunakan bukan hanya menanam cabai saja. – Hadi. Dikutip dari Detikcom

Marni (56 tahun), salah satu pedagang kebutuhan bahan pokok di Pasar Cipluk Penjaringan Jakarta Utara mengungkapkan bahwa harga cabai masih lebih mahal dibandingkan bahan kebutuhan pokok lainnya.

 Cabai masih mahal saat ini harganya Rp 120.000 per kilogram. – Marni Dikutip dari iNews

Selanjutnya, Marni menambahkan bahwa harga kebutuhan pokok lainnya seperti bawang merah dan bawang putih masih stabil. Begitu pun dengan harga telur ayam yang juga masih di angka Rp 25.000 per kilogramnya (kg). 

Harga bawang merah dan bawang putih harganya masih stabil di kisaran Rp 40.000 per kilogram. – Marni Dikutip dari iNews

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menyatakan bahwa berdasarkan data series produksi 5 tahun terakhir, pada bulan Desember-Februari produksi cabai rawit berstatus waspada, lantaran produksinya yang cenderung menurun dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Karena hal inilah yang menyebabkan produksi terganggu, seperti bunga rontok yang menyebabkan gagal berbuah.

Tak hanya itu, musim hujan juga meningkatkan serangan OPT seperti virus kuning, antraknosa, lalat buah, dan sebagainya. – Prihasto Setyanto Dikutip dari Detikcom

Sejumlah petani cabai di kawasan Lembang, Bandung Barat, mengutarakan beberapa alasan mengapa harga cabai bisa ikut “memanas” di pasaran. Salah satu yang paling berpengaruh adalah faktor cuaca ekstrem yang mengakibatkan banyak tanaman cabai mati.

Akibat cuaca ekstrem tanaman cabai lebih mudah terserang hama dan mati, jadi hasil panen menjadi berkurang. – Masri (Petani di Desa Wangunharja, Lembang, Bandung Barat. Dikutip dari iNews

Prihasto Setyanto juga menambahkan cuaca ekstrem juga mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah sentra produksi cabai, sehingga pertanaman rusak bahkan puso (tidak panen).

Berdasarkan data Direktorat Perlindungan Hortikultura, total luas penanaman cabai nasional yang banjir dan puso pada bulan Oktober-Desember 2020 seluas 431 hektare yang tersebar di beberapa wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, dan DIY.

Sementara itu, pada bulan Januari-Februari 2021 seluas 404,7 hektare di Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Jambi, Jawa Timur, dan NTT.

Hingga saat ini harga cabai rawit merah masih stabil di angka Rp 120.000 per kilogram. Setelah sebelumnya berada di level harga Rp 130.000 sampai Rp 150.000 per kilogramnya.

Meskipun begitu kata pedagang harga cabai rawit merah yang telah menyentuh di harga Rp 120.000 per kilogramnya, masih tergolong mahal.